Terimakasih kami panjatkan
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas bimbingannya, kami dapat menulis dan
menyelesaikan Karya Ilmiah.
Penulisan karya ilmiah ini,
guna memenuhi tugas Bahasa Indonesia semester genap kelas XI IPA 3 SMA Negeri 1
Tomohon. Penelitian karya ilmiah ini dapat dikerjakan atas bantuan dari
anggota-anggota kelompok kami. Oleh karena itu, disampaikan terimakasih kepada
yang telah berpartisipasi dalam tugas ini.
Dalam karya ilmiah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya ilmiah
ini.
Tomohon, 10 Mei 2012
Tim Penulis
Daftar Isi
•
Halaman judul …………………………………………………………………
•
Kata Pengantar…………………………………………………………………
•
Daftar isi………………………………………………………………………
•
Bab I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
……………………………………..………………………
B. Rumusan Masalah
……………………………………………..……………
1. Faktor Penyebab Kenakalan
Remaja …………………………………….…
2. Macam-macam Kenakalan Remaja
……………………………………......
3. Pencegahan Kenakalan
Remaja…………………………………………......
4. Akibat Kenakalan Remaja
…………………………………………………
5. Cara Penanggulangan Kenakalan
Remaja ……………………………
C. Tujuan Penelitian
•
Bab II. Pembahasan
• Bab III. Penutup
A. Kesimpulan ………………………………………………………………..
B. Saran
………………………………………………………………………
• Daftar Pustaka …………………………………………………………………
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dewasa ini searah perkembangan
zaman dan tehnologi banyak sekali terjadi penyalahgunaan untuk hal-hal yang
negatif. Khususnya masa remaja, anak selalu mencari kesenangan semata
tanpa memperdulikan akibat yang akan timbul dari perbuatannya itu. Sebagian
orang berpendapat bahwa masa muda sebagian saat yang paling indah dan nikmat.
Para remaja saat ini belum bisa
menyaring apa yang harus mereka contohi dan harus mereka hindari. Padahal,
dalam perkembangan zaman ini kita diharapkan mampu untuk menyaring mana yang
baik dan yang buruk.
Penuh kegembiraan. Memang
tidaklah salah, tetapi dikatakan benar seluruhnya adalah tidak mungkin,
masalahnya tergantung dari segi memandangnya. Jika dilihat dari kemauannya yang
tanpa dikaitkan dengan masa depan, ia bebas berhura-hura, bermewah-mewah tanpa
harus memeras kringat bagaimana mencari rupiah demi rupiah guna memenuhi
kebutuhan sehari-harinya ia sambil merayu dan dibubuhi alasan, jika tidak
ditiruti dia akan pergi dari rumah (minggat).
Tetapi jika memandang dari
sudut yang berkaitan dengan masa depan remaja itu sendiri sarat tanggung jawab
yang akan dipikul. Maka masa remaja lebih dapat disebut masa yang paling berat,
penuh tantangan, ia harus bekerja lebih berat, memanfaatkan setiap waktu yang
dimiliki, ia harus memperhatikan mental rohaniah, fisik jasmaniah untuk
memproses regenerasi yang pasti menghampirinya.
Kita mengetahui bahwa anak
lahir dalam keadaan fitroh dengan potensi yang berwujud kemungkinan-kemungkinan
ia pandai, baik budinya, teguh mentalitasnya dan sebaliknya banyak dipengaruhi
lingkungannya dimana dia hidup. Tri Pusat Pendidikan yaitu sekolah, keluarga
dan masyrakat, masing-masing mempunyi peranan dalam membentuk karakter
kenakalan anak.Sekolah dengan segala fasilitasnya beserta kondisi yang ada
tidak kecil pengaruhnya. Masyarakat dengan budayanya serta dengan iklim yang
ada dan juga dimana anak hidup dan diasuh secara terus menerus sehingga sulit
memilih mana yang paling dominan dalam mempengaruhi prilaku anak.
Bisa dibayangkan bagaimana
jadinya masa depan Indonesia apabila para remaja, tidak mampu memaanfaatkan
perkembangan budaya dan teknologi dengan baik.
B. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan karya ilmiah
ini, tidak semata-mata hanya karena memenuhi tugas Bahasa Indonesia kami,
melainkan untuk menyadarkan remaja-remaja untuk dapat menghindari segala
kenakalan yang sangat berdampak bagi masa depan mereka dan masa depan
Indonesia.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah di atas, terdapat beberapa rumusan masalah yang ada kaitannya dengan
kenakalan remaja, yaitu sebagai berikut:
- Apakah faktor penyebab dari kenakalan remaja?
- Apa saja contoh kongkrit dari kenakalan remaja?
- Bagaimana cara untuk mencegah kenakalan remaja?
- Apa saja akibat dari kenakalan remaja?
- Bagaimana cara untuk menanggulangi kenakalan remaja?
Untuk menjawab beberapa rumusan
masalah diatas, berikut penjelasannya dalam Bab II.
BAB II
Pembahasan
A. Faktor Penyebab Kenakalan
Remaja
- Pengaruh keluarga
Keluarga mempunyai peranan di
dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga
merupakan lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi
untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi
tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana
pendidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada
prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan
yang baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi
seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya,
menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya
pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan
pribadi anak.
- Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja,
memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin
banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka
dapat memiliki teman dari kalangan terbatas, misalnya anak orang yang paling
kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau
pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain
ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada
orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman
bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu
sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan
kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai
gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi
tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan
menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan
melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang dlsb.
Oleh karena itu, orangtua para
remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya
bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar.
Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak
menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah
yang akan timbul akibat pergaulan, selain remaja diarahkan untuk mempunyai
teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan
mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian
tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah
pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan
memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak
‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan
kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk
disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk
mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman
yang baik.
- Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering
hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di
rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa
kegiatan ini terlalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya
dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang
positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan
kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Sering perbuatan negatif
ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi
waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian
lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun
kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya
adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan, misalnya
ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat
bius dsb.
Munculnya kegiatan iseng
tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan
teman hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan
kawan-kawannya. Akhirnya ia sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam
masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya
maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak
mengenakkan terjerumus.
Oleh karena itu, orangtua
hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng
negatif itu akan merugikan diri sendiri dan juga orangtua maupun lingkungannya.
Dalam memberikan pengarahan orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka
akan tetapi jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan,
keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan
tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat
memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga
beladiri.
Mengisi waktu luang selain
diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut
memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan
sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja. Orangtua
hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya.Remaja selain membutuhkan
materi, sebenarnya mereka juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh
karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan
keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya
dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa
refreshing, rekreasi ke suatu tempat. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar
pikiran dan berbicara dari hati ke hati, misalnya dengan makan malam bersama,
atau duduk santai di ruang keluarga.
- Uang Saku
Pemberian uang saku kepada
remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan
dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan
tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah
Orangtua hendaknya memberikan
teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan
kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka
dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak
terlalu kikir. Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian
dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan
sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
- Perilaku Seksual
Pada masa ini, kebebasan
bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas
dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang
dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan
mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah
pacaran sejak awal masa remaja. Pacar,
bagi mereka, merupakan salah satu bentuk
gengsi yang membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi
persaingan untuk mendapatkan pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era
globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15
tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini
banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa
pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak
hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan
kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan
pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus
berlangsung selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan
pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap
seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak,
semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian
agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua dan kemudian mereka pacaran dengan
sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih
banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah
jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam
pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, orangtua tidak
setuju dengan pacar pilihan si anak.Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan
dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah
pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah fihak ketiga untuk
menengahinya.Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah
antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua
hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya
sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya dengan orangtua.
Dalam menghadapi masalah
pergaulan bebas antar jenis dimasa kini, orangtua hendaknya memberikan
bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar dan bijaksana kepada para
remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta
segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual.
Faktor-faktor yang lain, seperti :
o Kurangnya sosialisasi dari
orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
o Contoh perilaku yang
ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai
anti-sosial.
o Kurangnya pengawasan terhadap
anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan
lainnya).
o Kurangnya disiplin yang
diterapkan orangtua pada anak.
o Rendahnya kualitas hubungan
orangtua-anak.
o Tingginya konflik dan perilaku
agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
o Kemiskinan dan kekerasan dalam
lingkungan keluarga.
o Anak tinggal jauh dari orangtua
dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
o Perbedaan budaya tempat tinggal
anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.
o Adanya saudara kandung atau
tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
"Guru yang kurang sensitif
terhadap hal ini juga bisa membuat remaja menjadi semakin sulit diperbaiki
perilakunya. Demikian juga dengan guru yang terlalu keras dalam menghadapi
remaja yang bermasalah. Bisa jadi, bukannya ikut meredam kenakalan mereka,
malah membuat kenakalan mereka semakin menjadi," ujar Prof. Arif Rachman,
pakar pendidikan dari UNJ.
Sementara M Faisal Magrie,
konsultan psikologi remaja dari Asosiasi Berbagi, menyatakan beberapa hal yang
dapat dilakukan orangtua untuk mencegah munculnya perilaku kenakalan pada anak
remaja.
Menurut Faisal, mengasuh anak
yang memasuki usia remaja dapat diandaikan seperti bermain layangan.
"Apabila orangtua menarik talinya terlalu dekat, layangan itu tidak akan
bisa terbang. Namun bila orangtua membiarkan talinya terlalu jauh, layangan
tersebut akan putus karena angin yang kencang, atau hal lain seperti menyangkut
di pohon," kata Faisal.
Begitu juga dengan anak remaja,
jika orangtua terlalu mengekang anak, yang terjadi adalah anak tidak mampu
berkembang secara mandiri dan mereka akan berusaha untuk melepaskan dirinya
dari kekangan orangtua. Ketika hal ini terjadi, lingkungan sosial, terutama
teman sebaya, akanmenjadi pelarian utama si anak.
Hal yang sama juga dapat
terjadi apabila orangtua terlalu membebaskan anak. Perbedaannya adalah, anak
yang dibebaskan tidak merasakan tekanan sebesar apa yang dirasakan oleh anak
yang dikekang, sehingga dorongan untuk memberontak cenderung lebih kecil
dibandingkan anak yang dikekang.
Apabila ternyata lingkungan
sosial tempat anak biasa berkumpul memiliki kecenderungan untuk melakukan
kenakalan remaja, anak juga berpotensi besar untuk melakukan hal yang sama.
B. Contoh-contoh Kenakalan Remaja
- Tawuran antar pelajar
Tawuran antar pelajar adalah
perbuatan yang sangat bodoh, karena dapatmerusak fasilitas umum dan
fasilitas yg terdapat di sekolah. Tawuran juga dapat merusak masa depan, karena
jika tertangkap polisi nama mereka yang tertangkap akan tercemar.
- Mencoret coret dinding sekolah
Mencoret coret secara ilegal
adalah perbuatan yang tidak baik, karena dapatmembuat kotor sekitar lingkungan.
Tetapi jika kita melakukannya dengan baik, coretan coretan itu dapat
manjadi karya karya seni yang baik, dan juga dapat manghasilkan mata
pancaharian yang baik .
- Mencuri
Mancuri juga dapat merusak nama
baik kita, karena jika kita ketahuan mencuri, kita akan merasa sangat malu, dan
kita juga akan di jauhi oleh orang orang yang dekat dengan kita, karena orang
itu sudah tidak percaya lagi dengan kita.
- Bolos
Ketua Komisi Nasional
Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengatakan kebiasaan anak menghabiskan
waktu luang atau membolos saat jam sekolah salah satunya disebabkan karena
pelajaran atau kegiatan di sekolah tidak menarik.“Kalau diperhatikan, anak-anak
akan berteriak bahagia ketika mendengar bel istirahat atau bel pulang sekolah,”
ungkap Kak Seto, beberapa waktu lalu di Jakarta. Lebih lanjut Kak Seto
mengatakan, para akedimisi seharusnya lebih memperhatikan kegiatan yang menarik
di sekolah sehingga perhatian anak akan fokus pada kegiatan positif di sekolah.
Dia menunjuk, sekolah negeri dan perangkatna yang masih kurang maksimal dalam
mengajar kreatif. Bahkan Kak Seto menegaskan, belajar bukanlah kewajiban
melainkan hak anak.“Banyak guru yang tidak melihat proses kreativitas anak. Padahal tipe kecerdasan dan gaya belajar anak
yang satu dengan yang lainnya berbeda, tapi semuanya disama ratakan. Ini yang
membuat anak tidak betah ada di ruang kelas,” paparnya.
- Merusak fasilitas sekolah
Merusak fasilitas sekolah akan
merugikan diri saendiri dan orang lain, karena kita tidak bisa memakai atau
manggunakan fasilitas fasilitas tersebut.
Contoh-contoh
konkrit, seperti :
o Anak menjadi boros
o Anak tidak menghargai uang
o Anak malas belajar, sebab
mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang
o Suka Terlambat
o berbohong kepada ortu
o berkelahi dengan teman
o tidak menurut dengan guru
o Nonton majalah atau video porno
o Main game berlebihan
o Judi kecil-kecilan
C. Cara-cara Mencegah Kenakalan
Remaja
Dalam mencegah kenakalan remaja
yang paling dominan adalah dari keluarga merupakan lingkungan yang paling
pertama ditemui seorang anak. Di dalam
menghadapi kenakalan anak pihak orang tua kehendaknya dapat mengambil sikap
bicara yaitu perbuatan/tindakan yang bertujuan untuk menjauhkan si anak daripada
perbuatan buruk atau dari lingkungan pergaulan yang buruk. Dalam hal sikap yang
bersifat preventif, pihak orang tua dapat memberikan/mengadakan tindakan
sebagai berikut :
a) menanamkan
rasa disiplin dari ayah terhadap anak.
b) memberikan
pengawasan dan perlindungan terhadap anak oleh ibu.
c) pencurahan
kasih sayang dari kedua orang tua terhadap anak.
d) menjaga
agar tetap terdapat suatu hubungan yang bersifat intim dalam satuikatan
keluarga.
Disamping keempat hal yang diatas maka hendaknya
diadakan pula:
a)
Pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan
berguna.
b)
Penyaluran bakat si anak ke arab pekerjaan yang berguna dan
produktif.
c)
Rekreasi yang sehat sesuai dengan kebutuhan jiwa anak.
d)
Pengawasan atas lingkungan pergaulan anak sebaik-baiknya.
Orangtua hendaknya juga
memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga
kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan
maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan
pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi
waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui
tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga.
Ada pula cara yang lebih mudah,
seperti :
a) Berikan batasan yang jelas.
Orangtua disarankan untuk
memberikan batasan yang jelas mengenai perilaku apa yang benar-benar tidak
boleh dilakukan oleh anak, misalnya membolos, menggunakan narkoba, dan lain
sebagainya.
b) Berdiskusilah untuk tawar menawar.
Lakukan tawar menawar melalui
diskusi mengenai perilaku lainnya yang dianggap berpotensi membuat anak menjadi
nakal, seperti pulang malam, menginap, atau bahkan memilih pacar.
c) Biarkan anak menentukan standar
moralnya sendiri.
Proses tawar-menawar akan
merangsang anak untuk menentukan standar moralnya sendiri. Di sisi lain hal ini
dapat membuat anak lebih menghormati orangtuanya karena telah diberikan
kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri.
d) Aktif berkomunikasi dengan guru
di sekolah.
Pengawasan dan pemantauan
orangtua di rumah bisa dilengkapi dengan pengawasan dari guru di sekolah.
Pemantauan terpadu ini akan memberikan banyak masukan yang menyeluruh bagi
orangtua mengenai perilaku anaknya di luar rumah
D. Akibat- akibat Kenakalan Remaja
1. Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya
sehingga anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian akan
dapat menyebabkan kegoncangan emosi.
2. Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung
jawab di rumah atau di sekolah. Menghindarkan diri dari tanggung jawab biasanya
karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka sehingga
mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan lain yang
tidak terbimbing.
3. Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa
mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari
permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi.
4. Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah dalam
melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal.
5. Anak-anak yang suka berbohong.
6. Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu
teman-temannya di sekolah atau di rumah.
7. Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka
bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
8. Anak-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian.
E. Cara Menanggulangi Kenakalan
Remaja
Menurut Faisal, tidak ada kata
terlambat dalam menangani anak remaja yang terlihat 'melenceng'. Karena di usia
ini teman adalah segalanya bagi anak, ia dapat dengan mudah terpengaruh oleh
teman-teman sebayanya.
Untuk mengatasi hal ini,
tindakan yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan membuat kesan bahwa
mereka bisa berdamai dengan pilihan anaknya.Dengan begini, orangtua tetap bisa
mengawasi aktivitas dan pergaulan anaknya dengan pasif.
Namun, ada hal yang perlu
diperhatikan oleh orangtua berkaitan dengan hal tersebut. Ketika orangtua
terlalu 'masuk' ke dalam kehidupan anak, pasti anak akan merasa terganggu
privasinya. Ia akan merasa risih dan pada akhirnya justru bersikap tertutup
kepada orangtuanya.
Untuk itu, orangtua harus
mengusahakan agar tetap terlibat secara pasif, namun jangan sampai terkesan
terlalu ingin ikut campur.
BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Berdasarkan isi pembahasan di
atas, dapat disimpulkan bahwa:
Kenakalan remaja pada zaman ini
bergantung pada didikan orangtua dan karakter dari anak tersebut serta pengaruh
lingkungan.
Orangtua memegang peranan yang
sangat penting dalam kehidupan masa depan seorang anak.
Selain orangtua, pergaulan
remaja juga harus diperhatikan. Karena, teman yang baik akan membawa pengaruh
baik dan begitu juga sebaliknya.
B. Saran
Sebaiknya, orangtua lebih
memperhatikan pergaulan anaknya dan sering memberikan arahan pada anak agar
anak tidak mudah terpengaruh dengan kenakalan-kenakalan remaja saat ini. Dan
anak juga sebaiknya dapat menghindari pergaulan yang dapat merusak masa depan
mereka dan menjerumuskan mereka ke hal-hal yang tidak baik.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar